Monday, October 17, 2011

Contoh Laporan Observasi


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas perairan hampir dua pertiga dari luas wilayahnya yaitu sekitar 70%. Wilayah perairan di Indonesia berdasarkan kandungan kadar garamnya atau salinitas dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis perairan yaitu perairan tawar, perairan payau dan perairan laut. Dari ketiga jenis perairan tersebut dapat dihasilkan suatu produksi perikanan yang memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Potensi perikanan budidaya secara nasional diperkirakan sebesar 15,59 juta hektar (Ha) yang terdiri dari potensi air tawar 2,23 juta ha, air payau 1,22 juta ha dan budidaya laut 12,14 juta ha. Pemanfaatannya hingga saat ini masing-masing baru 10,1 persen untuk budidaya ikan air tawar, 40 persen pada budidaya air payau dan 0,01 persen untuk budidaya laut, sehingga secara nasional produksi perikanan budidaya baru mencapai 1,48 juta ton.
Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (Freddy Numberi, 2006), akan menargetkan produksi perikanan pada tahun 2006 mencapai 7,7 juta ton atau meningkat sebesar 13%, yang terdiri dari produksi perikanan tangkap sebesar 5,1 juta ton dan produksi perikanan budidaya sebesar 2,6 juta ton, serta konsumsi ikan menjadi 28kg/kapita/tahun.
Melihat potensi sumberdaya perikanan Kel Cigadung belum seluruhnya tergali, apabila dimanfaatkan dan dikelola secara bijaksana dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Dari hal itulah saya ingin melakukan observasi lapangan tentang ikan nila agar kekayaan perikanan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Kebutuhan akan gizi mutlak diperlukan karena meningkatkan produktifitas manusia di segala bidang. Maka perlu dicari bahan pangan yang bermutu baik dengan harga yang relatif terjangkau dan mudah didapat. Di antaranya adalah ikan, baik dari hasil tangkapan di laut maupun hasil budidaya. Daging ikan segar ternyata cukup mengandung protein antara 16%-24%, lemak antara 0,2%-2,2%, unsur mineral, vitamin serta karbohidrat. Penderita tekanan darah tinggi sangat cocok mengkonsumsi ikan karena daging ikan tidak mengandung kolesterol.

B. Tujuan dan Manfaat Observasi
Tujuan dari Oservasi adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa di bidang perikanan yaitu mengetahui cara penebaran benih, pertumbuhan ikan, pemberian pakan, cara pengapuran kolam, pemupukan kolam serta penanganan ikan selama masa pemeliharaan.
Manfaat Observasi yaitu dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam budidaya Ikan Nila (oreochormis niloticus) sebagai bekal terjun ke masyarakat.

BAB II
KAJIAN TEORI

Sejarah Ikan nila
            Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.
            Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang berasal dari Taiwan sudah sejak tahun 1969 dikenal oleh masyarakat Indonesia. Nama atau sebutan nila ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perikanan pada tahun 1972, diambil dari nama spesiesnya nilotika menjadi nila.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ikan Nila (oreochormis niloticus) mempunyai keunggulan dan perkembangan budidaya relatif lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang mudah berkembang biak, pertumbuhan badannya cepat, dan merupakan pemakan plankton serta tumbuhan air lunak yang tumbuh di dalam kolam. Keunggulan lain, ternyata Ikan Nila (oreochormis niloticus) dapat hidup, tumbuh dan berbiak pada kondisi air ber pH = 5.
Ikan Nila (oreochormis niloticus) termasuk salah satu jenis ikan yang mempunyai toleransi terhadap kualitas air dengan kisaran lebar, maka Ikan Nila (oreochormis niloticus) sehinga sangat cocok dibudidayakan di kolam-kolam pekarangan yang relatif sempit di sekitar rumah tinggal. Cara pembudidayaan tidak sulit. Dari segi pembesaran, dapat dibudidayakan dengan berbagai cara atau sistem antara lain : monokultur (pemeliharaan tunggal), polikultur (pemeliharaan campuran) dan longyam (pemeliharaan terpadu).
Kualitas Air
Variabel kualitas air yang sangat berpengaruh terhadap ikan nila antara lain adalah:
1. Suhu air.
Suhu air merupakan factor penting yang harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi laju metabolisme dalam tubuh ikan. Pada suhu air yang tinggi maka laju metabolisme akan meningkat, sedangkan pada suhu yang rendah maka laju metabolisme akan menurun.
Dengan suhu yang optimal maka laju metabolisme akan optimal. Pertumbuhan ikan nila sangat dipengaruhi oleh suhu air dalam usaha pembesaran atau pembenihan. Suhu air sangat berpengaruh terhadap aktifitas saluran pencernaan benih ikan nila.
Makanan alami yang berupa detritus dan fauna dasar selesai dicerna dalam waktu 1,68 jam pada suhu 27 – 28oC dan 1,31 jam pada suhu 32-33 oC. Pada suhu 27 – 28oC pakan zooplankton dapat dicernakan dalam waktu 2,2 jam. Ikan dapat mencernakan makanannya selama 2,5 – 3 jam pada suhu 30oC. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka suhu optimum untuk pertumbuhan ikan nila adalah 25 – 30oC.
2. Volume air
Pertumbuhan ikan nila yang dipelihara dalam air mengalir lebih cepat daripada yang dipelihara dalam air tergenang. Dalam kondisi air mengalir, ikan nila dengan bobot awal 9,1 gram diberi pakan pellet 25% protein dan feeding ratenya 3,5% dalam waktu seminggu akan mencapai bobot 34,2 gram. Selain itu volume air sangat menentukan padat penebaran ikan nila yang optimal. Padat penebaran ikan nila di kolam adalah 30 ekor/ m2.
3. Kadar oksigen terlarut
Untuk dapat hidup manusia membutuhkan oksigen begitu juga dengan ikan. Oksigen yang dibutuhkan ikan yang hidup didalam air disebut dengan oksigen terlarut. Ikan nila merupakan ikan yang tahan terhadap kekurangan oksigen terlarut dalam air, namun pertumbuhan ikan ini akan optimal jika kandungan oksigen terlarut lebih dari 3 ppm. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 3 ppm dapat menyebabkan ikan tidak dapat tumbuh dan akhirnya mati.
4. Kadar garam (salinitas)
Ikan nila mempunyai toleransi salinitas yang cukup luas, tetapi pertumbuhan ikan nila pada kadar garam lebih dari 30% akan terhambat. Pada kadar garam yang tinggi ikan membutuhkan energi yang minim untuk osmoregulasi sehingga energi yang digunakan untuk pertumbuhan berkurang.
5. Cemaran lingkungan
Ikan nila yang dipelihara pada musim kemarau banyak yang mati. Hal ini diakibatkan oleh pengaruh secara tidak langsung dari sinar matahari yang dapat meningkatkan keasaman (pH) perairan. Gejala mabuk pada ikan nila dapat diakibatkan dari akitifitas berenang ikan yang cepat dipermukaan dengan gerakan tidak beraturan dan tutup insang bergerak aktif. Selain itu air budidaya yang tercemar minyak akan menyebabkan kerusakan sel-sel saluran pencernaan. Oleh karena itu agar ikan nila tunbuh dengan cepat air budidayanya tidak boleh tercemar baik oleh limbah industri maupun rumah tangga. Dalam air budidaya ikan yang baik sepintas dapat dilihat dari keruh atau tidaknya air kolam. Untuk mengetahui tingkat kekeruhan air kolam dapat dilihat dari tingkat kecerahan air kolam dengan menggunakan alat pengukur yang disebut secchi disk atau keeping secchi.
Kecerahan yang baik untuk kehidupan ikan nila di kolam berkisar antara 25-40 cm. Artinya jarak batas pengelihatan terhadap keeping secchi adalah berkisar antara 25-40 cm dari atas permukaan perairan. Kecerahan kurang dari 25 cm tidak menguntungkan karena mengakibatkan rendahnya kandungan oksigen terlarut di kolam. Pada kolam budidaya yang keruh maka jarak batas penglihatan terhadap keeping secchi rendah yang berarti kolam tercemar bahan organik atau Lumpur.
Nilai gizi
Ikan nila dan mujair merupakan sumber protein hewani murah bagi konsumsi manusia. Karena budidayanya mudah, harga jualnya juga rendah. Budidaya dilakukan di kolam-kolam atau tangki pembesaran. Pada budidaya intensif, nila dan mujair tidak dianjurkan dicampur dengan ikan lain karena memiliki perilaku agresif.
Nilai kurang bagi ikan ini sebagai bahan konsumsi adalah kandungan asam lemak omega-6 yang tinggi sementara asam lemak omega-3 yang rendah. Komposisi ini kurang baik bagi mereka yang memiliki penyakit yang berkait dengan peredaran darah.[1]

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Ikan Nila Biasa (Lokal)
1. Klasifikasi
Kingdom          :   Animalia
Phylum            :   Chordata
Sub Phylum   :   Vertebrata
Kelas                :   Pisces
Sub Kelas       :   Acanthotherigi
Ordo                 :   Perchomorphi
Sub Ordo         :   Perchomorphi
Famili               :   Perchoiaea
Genus              :   Oreochormis
Spesies            :   Oreochromis niloticus
2. Ciri Fisik ( Morfologi)
Ikan Nila (oreochormis niloticus) mempunyai ciri-ciri morfologi : bentuk bulat pipih, punggung lebih tinggi, pada badan dan sirip ekor (caundal fin) ditemukan garis lurus (vertikal). Sedangkan garis lurus memanjang ditemukan pada sirip punggung. Ikan Nila (oreochormis niloticus) dapat hidup diperairan tawar dan mereka menggunakan ekor untuk bergerak, sirip perut, sirip dada dan penutup insang yang keras untuk mendukung badannya.
Menurut Puslitbang Perikanan (1988) Ikan Nila (oreochormis niloticus) adalah termasuk campuran ikan pemakan campuran (omnivora). Adapun makanannya berupa :
1.    Hewan-hewan seperti protozoa dan zooplankton
2.    Ganggang, algae yang tersedia di kolam.
3.    Pertumbuhan dan Perkembangan
Ikan nila dapat mencapai saat dewasa pada umur 4 – 5 bulan dan ia akan mencapai pertumbuhan maksimal untuk melahirkan sampai berumur 1,5 – 2 tahun. Pada saat ia berumur lebih dari 1 tahun kira – kira beratnya mencapai 800g dan saat ini ia bisa mengeluarkan 1200 – 1500 larva setiap kali ia memijah. Dan dapat berlangsung selama 6 – 7 kali dalam setahun. Sebelum memijah ikan nila jantan selalu membuat sarang di dasar perairan dan daerahnya akan ia jaga dan merupakan daerah teritorialnya sendiri. Ikan Nila jantan menjadi agresif saat musim ini
4.    Habitat dan Penyebarannya
Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Ikan memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya. Sehingga ia bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Ia mampu hidup pada suhu 14 – 38 derajat celcius. Dengan suhu terbaik adalah 25 –  30 derajat. Hal yang paling berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar garam jumlah 0 – 29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Meski ia bisa hidup di kadar garam sampai 35% namun ia sudah tidak dapat tumbuh berkembang dengan baik.


B.   Ikan Nila Merah


1.    Klasifikasi           
Kingdom         :   Animalia
Phylum           :   Chordata
Sub Phylum  :   Vertebrata
Kelas               :   Pisces
Sub Kelas      :   Acanthotherigi
Ordo                :   Perchomorphi
Sub Ordo        :   Perchomorphi
Famili              :   Perchoiaea
Genus             :   Oreochormis
Spesies           :   Oreochromis niloticus
2.     Ciri fisik ( Morfologi )
Tubuh ikan agak bulat dan pipih. Mulut terletak di ujung kepala (terminal). Garis rusuk (linea lateralis) terputus menjadi dua bagian dan terletak memanjang mulai dari atas sirip dada. Jumlsh sisik garis rusuk sebanyak 34 buah. Warna badan kemerahan polos atau bertotol-totol hitam dan sering pula berwarna albino (bule).
3.     Pertumbuhan dan perkembangan
Nila merah bersifat beranak pinak dan cepat pertumbuhannya. Selain itu, ikan ini memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan kadar garam sampai 3o promil. Kedewasaan pertama tercapai pada umur 4-6 bulan dengan bobot 100-250 g. Jenis ikan ini dapat memijah 6-7 kali/tahun.
Seekor induk betina dapat menghasilkan telur sebanyak 1.000 - 1.50o butir. Saat pemijahan ikan jantan akan membuat sarang dan menjaganya. Telur yang telah dibuahi dierami oleh induk betina di dalam mulutnya. Penjagaan oleh betina masih terus dilanjutkan sampai seminggu setelah telur-telur tersebut menetas.
Ikan nila merah dapat mencapai saat dewasa pada umur 4 - 5 bulan dan ia akan mencapai pertumbuhan maksimal untuk melahirkan sampai berumur 1,5 - 2 tahun. Dan dapat berlangsung selama 6 - 7 kali dalam setahun. Ikan nila merah jantan menjadi agresif saat musim ini.
4.     Habitat dan Penyebarannya
Ikan nila merah memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga ia bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Ia mampu hidup pada suhu 14 - 38 derajat celcius. Dengan suhu terbaik adalah 25 - 30 derajat. Meski ia bisa hidup di kadar garam sampai 35% namun ia sudah tidak dapat tumbuh berkembang dengan baik.
Ikan nila merah termasuk dalam ikan pemakan segala atau Omnivora. Ikan ini dapat berkembang biak dengan aneka makanan baik hewani maupun nabati. Ikan nila merah saat ia masih benih, pakannya adalah plankton dan lumut sedangkan jika ia sudah dewasa ia mampu diberi makanan tambahan seperti pelet dan berbagai makanan lain yaitu daun talas.
C.    Ikan Nila Gift


1.    Klasifikasi           
Kingdom         :   Animalia
Phylum           :   Chordata
Sub Phylum  :   Vertebrata
Kelas               :   Pisces
Sub Kelas      :   Acanthotherigi
Ordo                :   Perchomorphi
Sub Ordo        :   Perchomorphi
Famili              :   Perchoiaea
Genus             :   Oreochormis
Spesies           :   Oreochromis niloticus bleker

2.     Ciri fisik ( Morfologi )
Morfologi ikan nila gift betina : tubuh memanjang; warna agak kusam; perut agak gendut, gerakan lamban, punya 2 buah lubang kelamin membulat, satu lubang telur satu lubang kencing, dan berukuran 300 – 500 gram. Morfologi ikan nila gift jantan : tubuh membulat; warna cerah; bersirip kemerahan; gerakan lincah, satu alat kelamin yang memanjang, terkadang keluar cairan putih bening bila dipijit lubang kelaminnya, dan berukuran antara 400 - 500 gram.
3.     Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan ikan nila gift jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda, nila jantan 40% lebih cepat dari pada nila betina.  Disamping itu, yang betina apabila sudah mencapai ukuran 200 g pertumbuhannya semakin lambat, sedangkan yang jantan tetap tumbuh dengan pesat.  Hal ini akan menjadi kendala dalam memproyeksikan produksi.  untuk mengantisipasi  kendala ini, saat ini sudah dilakukan proses jantanisasi atau membuat populasi ikan menjadi jantan semua ( Sex-reversal ) yaitu dengancara pemberian hormon 17 Alpa methyltestosteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari.
Dibandingkan dengan ikan nila lokal, maka nila gift mempunyai karaketristik genetik yang lebih unggul terutama tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dan fekunditas (tingkat kesuburan untuk menghasilkan sejumlah telur) lebih tinggi. Dalam waktu 5 - 6 bulan ikan nila gift mampu mencapai berat tubuh sekitar 600 gram. Daya tahan tubuh yang lebih baik memungkinkan nila gift lebih toleran terhadap kisaran nilai salinitas air yang tinggi dan lebih tahan terhadap serangan penyakit.
4.     Habitat dan Penyebarannya
Ikan Nila di Jawa Barat merupakan ikan introduksi yang datang pertama kali dari Taiwan pada. tahun 1969 (Hardjamulia & Djajadireja 1977). Tahun 1975 didatangkan Nila. Hibrid (hasil silang T. nilotica dan T. mossambica) dari Taiwan. Nila. Merah muncul pada tahun 1981 yang diintroduksi dari Philipina. Kemudian pada tahun 1988 - 1989 didatangkan Parent Stock Nila Chitralada dari Thailand, namun tidak berkembang.
Ikan Nila GIFT merupakan varietas baru dari jenis Ikan Nila yang yang dikembangkan oleh ICLARAM di Philipina. Ikan Nila GIFT tersebut diintroduksi dari Philipina pada. tahun 1995 - 1997. Pada. tahun 2002 BPBI Wanayasa memperoleh famili Ikan Nila GET (Genetically Enhanched of Tilapia). Ikan Nila GET tersebut diintroduksi dari Philipina oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat melalui BFAR (Bureau of Fisheries and Aquatic Research).
Ikan nila gift adalah merupakan jenis unggul yang dihasilkan dari program kawin silang dan seleksi famili atas jenis-jenis nila lokal yang berasal dari beberapa negara seperti Taiwan, Mesir, Thailand, Ghana, Singapura, Israel, Senegal dan Kenya. Populer dan semakin merebaknya kegiatan budidaya ikan nila gift beberapa tahun belakangan ini disebabkan oleh prospek ekspor dan permintaan yang tinggi dari negara-negara seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, Singapura, Hong Kong dll. Indonesia sejauh ini dikenal sebagai salah satu negara pengekspor ikan nila gift terbesar (di bawah 10 juta ton/tahun) di samping Taiwan, Costa Rica, Filipina dan Thailand. Bahkan di Karawang, Jawa Barat saat ini sedang dibangun proyek percontohan budidaya ikan nila gift pada areal seluas 50 hektar. Budidaya nila gift bisa ditemukan di Waduk Cirata, Waduk Saguling, Waduk Jatiluhur dan Sukabumi. 
5.     Keunggulan Ikan Nila Gift
Nila GIFT memiliki bebepapa keunggulan, diantaranya :
a. Tumbuh lebih cepat, 5 kali lebih cepat dari nila dulu
b. Dapat mencapai ukuran besar, lebih dari 3 kg
c. Tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit.
d. Sangat respon terhadap pakan tambahan
e. Tahan hidup pada kadar garam tinggi, lebih dari 30 ppt
f. Mudah dibudidayakan

BAB  IV
KESIMPULAN DAN SARAN
 A.   Kesimpulan
Usaha pemeliharaan Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) di Kelurahan Cigadung, Kabupaten Kuningan mempunyai prospek yang cukup baik dikembangkan, karena permintaan pasar yang cenderung sangat meningkat dan rasanya yang gurih serta ditunjang pula harganya yang relatif mahal dibandingkan dengan ikan hasil budidaya air tawar lainnya di sekitar Kuala Kapuas.
Pemeliharaan Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) di kolam merupakan salah satu cara budidaya ikan yang mudah dikembangkan di Kabupaten Kuningan karena wilayahnya yang banyak air dan sungai serta pola budidaya ikan yang mulai digandrungi masyarakat. Juga sebagai alternatif sumber pendapatan dan pemenuhan gizi keluarga.
Makanan bagi Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) juga tidak sulit, karena ia mau menyantap segala jenis makanan alami ataupun buatan (pellet), bahkan diberi dedak halus ataupun ampas tahu ia mau juga. Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) termasuk jenis ikan pemakan campuran (omnivora).
Berbeda dengan jenis ikan konsumsi lainnya, Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) termasuk golongan pemakan segala ini dapat dibudidayakan (pembesaran) dengan berbagai sistem, antara lain sistem air deras, keramba, jaring terapung, longyam serta di kolam air tergenang (stagnat water). Oleh karena dibudidayakan dengan banyak cara itulah, maka Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) dapat dijadikan alternatif pemilihan usaha.

DAFTAR PUSTAKA

-     Fikri Ghazali Ramdhan. http://ramdhan18.wordpress.com. Universitas Kuningan, 2010.  (penulis/penyusun)
-     Hassanudin Saanin. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta Jakarta. 1992.

No comments:

Post a Comment

Share it